Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Atambua, RakyatNTT.ID – Kabupaten Belu kembali menjadi sorotan internasional dengan digelarnya Festival Persahabatan Internasional 2026. Ajang yang berlangsung pada 2–5 Juli 2026 itu resmi diawali dengan Friendship Dinner di Aula Betelalenok, Atambua, Rabu (1/7/2026) malam.
Acara pembukaan dihadiri Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol (Purn) Dr. Drs. Jhoni Asadoma, M.Hum., Bupati Belu Willybrodus Lay, SH, tokoh internasional Dr. Anthony Greco dari Kanada, perwakilan Konsulat Timor Leste, unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, hingga organisasi kemahasiswaan.
Dalam sambutannya, Jhoni Asadoma menyebut Festival Persahabatan Internasional sebagai simbol harapan di tengah situasi dunia yang masih dilanda konflik.
“Melalui apa yang dilakukan di Belu ini, kita sedang menyalakan lilin kecil yang memberi terang di tengah kegelapan dunia. Semangat persahabatan yang dibangun di sini patut menjadi contoh,” kata Jhoni.
Wagub NTT Apresiasi Belu Sukses Gelar Dua Festival Internasional
Wagub NTT memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Belu yang dinilai mampu menghadirkan dua agenda internasional dalam waktu berdekatan, yakni Festival Fulan Fehan dan Festival Persahabatan Internasional 2026.
Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa daerah perbatasan mampu menjadi pusat kreativitas, inovasi, sekaligus diplomasi budaya.
“Walaupun kita berada di ujung Indonesia, di wilayah perbatasan, Belu telah membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi tidak mengenal jarak. Apa yang dilakukan Belu menjadi kebanggaan NTT,” ujarnya.
Jhoni juga mengingatkan bahwa Festival Fulan Fehan sebelumnya berhasil menarik perhatian nasional dan internasional dengan kehadiran Menteri Dalam Negeri RI, Wali Kota Darwin dari Australia, hingga delegasi Timor Leste.
Libatkan 93 UMKM, Festival Gerakkan Ekonomi Masyarakat
Selain membawa pesan persahabatan lintas negara, Festival Persahabatan Internasional juga dinilai memberikan dampak nyata terhadap ekonomi lokal.
Jhoni mengungkapkan, sebanyak 93 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ikut ambil bagian dalam festival tersebut.
Menurutnya, kegiatan berskala internasional mampu meningkatkan perputaran ekonomi daerah, membuka peluang usaha, serta mendorong masyarakat lebih kreatif dalam mengembangkan potensi lokal.
“Event seperti ini memberikan manfaat langsung kepada masyarakat karena menciptakan peredaran uang dan menggerakkan ekonomi daerah,” katanya.
Jhoni Asadoma: Persahabatan adalah Jalan Menuju Perdamaian
Dalam pidatonya, Jhoni Asadoma mengaitkan semangat festival dengan kondisi geopolitik dunia yang masih diwarnai peperangan di berbagai kawasan.
Menurutnya, perdamaian hanya dapat diwujudkan melalui persahabatan, dialog, dan saling menghormati antarsesama.
“Jika kita bersahabat, kita akan hidup berdampingan dengan damai, tenteram, dan sejahtera. Sebaliknya, konflik hanya akan menghambat kehidupan dan pembangunan,” ujarnya.
Ia berharap semangat yang lahir dari Belu dapat menginspirasi masyarakat dunia.
“Mari kita pancarkan cahaya persahabatan dan perdamaian dari Atambua, Belu, dan Nusa Tenggara Timur untuk dunia,” ajaknya.
Bupati Belu: Filosofi “Belu adalah Sahabat” Menjadi Jiwa Festival
Sementara itu, Bupati Belu Willybrodus Lay menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Belu sebagai tuan rumah Festival Persahabatan Internasional 2026.
Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa nama Belu memiliki makna filosofis sebagai “Sahabat”, sehingga sangat selaras dengan semangat festival yang mengusung nilai persaudaraan dan perdamaian.
“Terima kasih telah memilih Kabupaten Belu dan Kota Atambua sebagai lokasi festival internasional ini. Kami percaya pilihan ini bukan sebuah kebetulan, tetapi bagian dari penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar Willy.
Menurutnya, penyelenggaraan festival tersebut semakin memperkuat komitmen Belu sebagai daerah perbatasan yang menjunjung tinggi persahabatan melalui pendekatan budaya.
Belu Perkuat Posisi sebagai Pusat Diplomasi Budaya
Bupati Willy mengungkapkan bahwa hanya beberapa hari sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Belu sukses menggelar Festival Fulan Fehan yang juga mengangkat tema persahabatan dan perdamaian.
Rangkaian agenda internasional tersebut, menurutnya, semakin mempertegas posisi Belu sebagai pusat diplomasi budaya di kawasan perbatasan Indonesia.
Ia mengaku merasa terhormat karena Dr. Anthony Greco bersama tim internasional memilih Atambua sebagai lokasi penyelenggaraan festival.
“Kami mungkin belum pernah saling mengenal sebelumnya, tetapi Anda memilih Kota Atambua. Itu menjadi kehormatan besar bagi masyarakat Belu,” katanya.
Harap Festival Beri Manfaat bagi Masyarakat
Menutup sambutannya, Willybrodus Lay mengajak seluruh masyarakat menjaga semangat persaudaraan selama festival berlangsung.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan hingga 5 Juli 2026 berjalan lancar, aman, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan sosial, budaya, maupun ekonomi masyarakat Kabupaten Belu.
“Selamat datang di Belu. Semoga apa yang kita lakukan hari ini membawa manfaat bagi kita semua dan masyarakat Kabupaten Belu pada umumnya,” ujarnya.
Pembukaan Festival Persahabatan Internasional 2026 ditandai dengan prosesi pemukulan Tihar secara simbolis oleh Wakil Gubernur NTT, Bupati Belu, Dr. Anthony Greco, serta para tokoh agama.
Melalui filosofi “Belu adalah Sahabat”, Kabupaten Belu terus memperkuat identitasnya sebagai daerah perbatasan yang terbuka, inklusif, kaya budaya, dan menjadi jembatan persahabatan Indonesia dengan masyarakat internasional. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan