Namun demikian, Imanuel mengingatkan pemerintah daerah agar memperhatikan keberlangsungan populasi kuda di Sumba Barat Daya yang saat ini dinilai terus menurun akibat banyaknya kuda produktif yang dijual ke luar daerah.

Menurutnya, kondisi tersebut harus segera dikendalikan agar tidak menghambat proses pengembangbiakan kuda lokal.

“Dulu waktu saya masih bekerja di Sumba Timur, kuda yang dikirim ke luar daerah itu kuda yang sudah tidak produktif. Sekarang justru kuda-kuda produktif yang keluar, sehingga proses pengembangbiakan kita menurun,” katanya.

Ia mencontohkan, penurunan populasi kuda mulai terlihat saat pelaksanaan Pasola, di mana masyarakat mulai kesulitan mendapatkan kuda untuk mengikuti tradisi tersebut.

“Buktinya saat Pasola, orang yang naik kuda saja sudah mulai berkurang. Itu artinya populasi kuda kita memang menurun,” ucapnya.

Imanuel berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) SBD dapat menerbitkan kebijakan yang mengatur agar kuda-kuda produktif tidak lagi dikeluarkan dari daerah. Selain itu, pemerintah juga didorong untuk mengembangkan program pembibitan guna meningkatkan kualitas dan populasi ternak kuda.

Ia mengungkapkan, pengalaman di Kabupaten Sumba Timur dapat dijadikan contoh. Saat itu, pemerintah mendatangkan bibit kuda unggul dari Australia dan Malang untuk dikembangbiakkan, sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.