Tim menilai kualitas bibit serta potensi produksi rumput laut di kedua wilayah tersebut sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah.

Lagabus menjelaskan, produksi rumput laut di Sabu Raijua sempat mengalami penurunan drastis setelah Badai Seroja melanda pada 2021.

Sebagai upaya pemulihan, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua membangun enam kebun bibit rumput laut pada tahun 2026 dengan menerapkan metode seleksi bibit unggul.

Iklan

Bibit tersebut nantinya akan didistribusikan kepada para pembudidaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Rumput Laut Spinosum jadi Andalan Baru

Saat ini, masyarakat mulai mengembangkan rumput laut jenis Spinosum (SP) karena lebih tahan terhadap serangan penyakit dibandingkan jenis Cottonii.

Selain memiliki ketahanan yang lebih baik, Spinosum juga memiliki masa panen yang lebih singkat sehingga lebih cepat memberikan hasil bagi petani.

Meskipun harga jualnya relatif lebih rendah dibandingkan Cottonii, budidaya Spinosum mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp5 juta per kepala keluarga setiap bulan.

Karena itu, pemerintah daerah mendorong pola budidaya kombinasi antara Spinosum dan Cottonii agar produktivitas tetap terjaga sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.