“Rumah tradisional adalah wadah kehidupan, sedangkan lembar-lembar kain adat adalah narasinya. Keduanya tidak bisa dipisahkan karena sama-sama lahir dari rahim budaya, ritual, dan spiritualitas masyarakat NTT,” ujar Yori Antar.

Sementara itu, Rizali Din Doeana membagikan pandangannya mengenai pemetaan dan pengembangan Jalur Tenun Sumba. Ia menekankan bahwa setiap motif pada kain tenun NTT menyimpan cerita sejarah, status sosial, hingga hubungan manusia dengan alam.

Melalui program Jalur Tenun, Yayasan Uma Nusantara berkomitmen menjaga ekosistem penenun lokal agar tetap berdaya dan semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Iklan

Kehadiran Gubernur NTT dalam kegiatan ini menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah daerah dengan komunitas budaya dalam menjaga warisan leluhur.

Dengan mengenakan kain bermotif khas Ende Lio, Gubernur NTT menyampaikan apresiasi atas inisiatif Yayasan Uma Nusantara dalam mempromosikan tenun sebagai identitas budaya daerah.

Tenun Ende Lio sendiri dikenal memiliki teknik ikat yang rumit dengan ragam hias geometris dan motif moko yang memiliki nilai estetika tinggi. Kekayaan tersebut menunjukkan keberagaman tenun dari setiap wilayah di NTT yang membawa pesan dan filosofi leluhur yang berbeda-beda.