Pada kesempatan tersebut, Aurum turut memberikan apresiasi terhadap upaya penelusuran sejarah dan asal-usul masyarakat Baumata yang dilakukan oleh Tim Pascasarjana Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang.

Menurutnya, dokumentasi sejarah lokal merupakan investasi intelektual dan budaya yang sangat penting untuk menjaga warisan identitas masyarakat bagi generasi mendatang.

“Saya menyambut baik penelusuran asal-usul masyarakat yang dilakukan oleh Tim Pascasarjana Universitas Kristen Artha Wacana Kupang. Ini merupakan dokumentasi penting dalam pelestarian budaya lokal agar nilai dan identitas budaya tidak hilang, melainkan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Iklan

Dalam suasana penuh keakraban, Aurum juga menggambarkan keberagaman budaya yang hidup di Kabupaten Kupang dan Nusa Tenggara Timur.

“Hari ini saya datang di Taebenu, sementara saya berasal dari Fatuleu, mengenakan pakaian bermotif Rote, diberikan kain tenun Sabu, tetapi yang memberikan berasal dari Taebenu. Ini menunjukkan betapa indahnya keberagaman yang kita miliki,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Kupang, lanjut Aurum, berkomitmen untuk terus mendukung berbagai program pelestarian budaya melalui kolaborasi dengan gereja, lembaga pendidikan, komunitas budaya, serta masyarakat.