Menurut Prof. Eka, mahasiswa kedokteran saat ini merupakan generasi yang akan menentukan masa depan pelayanan kesehatan sekaligus membawa perubahan positif bagi NTT.

“Kami membuka peluang beasiswa bagi dokter muda asal NTT yang memiliki kemauan kuat untuk melanjutkan pendidikan spesialis di UPH,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi kabar baik bagi mahasiswa kedokteran di NTT yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis tanpa harus terbentur keterbatasan biaya.

Kuliah umum dibagi dalam dua sesi dan menghadirkan enam narasumber dari berbagai bidang spesialisasi dan subspesialisasi, yakni Prof. Dr. dr. Eka J. Wahjoepramono, Sp.BS(K)., Ph.D., Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), Dr. dr. Rusli Muljadi, Sp.Rad(K)., Dr. dr. Nata Pratama Hardjo Lugito, Sp.PD., Dr. dr. Elric Brahm Malelak, Sp.FTB., serta Dr. dr. Yafet Ronny Setiawan, Sp.BS.

Para pakar membahas berbagai kasus medis kompleks, mulai dari penanganan komplikasi infeksi TBC-HIV/AIDS hingga prosedur bedah saraf modern.

Pembahasan juga menyoroti pemanfaatan teknologi digital dalam meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas penanganan pasien.

Salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta adalah teknologi Gamma Knife, yakni prosedur bedah otak tanpa sayatan yang menjadi salah satu inovasi penting dalam dunia kedokteran modern.