Lebih dari itu, masyarakat Sumba sedang berada dalam pusaran disrupsi sosial-ekonomi yang hebat. Kita menyaksikan kemiskinan ekstrem dan stunting yang masih membayangi generasi masa depan. Di sektor agraria dan ruang hidup, privatisasi wilayah pesisir serta klaim sepihak atas tanah-tanah ulayat demi ekspansi investasi berskala besar kian meminggirkan posisi masyarakat adat.

Generasi muda Sumba pun menanggung beban kultural dan ekonomi yang ganda; mereka terjebak di antara tuntutan biaya sosial-adat (seperti urusan belis atau ritus pemakaman) yang kian mahal di tengah himpitan ekonomi modern yang menjerat.

Akibatnya, kebudayaan luhur Sumba mengalami pergeseran makna. Ritus sakral seperti Pasola atau tradisi Marapu sering kali direduksi dan mengalami komersialisasi dangkal sekadar demi kebutuhan industri pariwisata (folkloristik), sementara esensi nilai filosofis keadilan, keteguhan, dan hukum adatnya mulai luntur dari sanubari generasi muda.

Ironisnya, banyak dari kompleksitas persoalan agraria, kerentanan eksistensi masyarakat adat, serta disrupsi sosial-budaya ini belum menjadi menu utama dalam meja laboratorium riset perguruan tinggi kita. Kampus tampak sunyi dari pembelaan publik, gagap dalam menawarkan resolusi konflik hukum tata ruang, dan acuh terhadap derita kultural warganya. Kampus ada di Sumba, tetapi kepalanya melayang di tempat lain.