Namun demikian, tim praktikum juga menemukan sejumlah tantangan dalam pengelolaan padang penggembalaan. Komposisi tanaman legum atau kacang-kacangan sebagai sumber nutrisi tambahan masih sangat rendah, yakni di bawah 5 persen.

Di sisi lain, keberadaan gulma atau tanaman pengganggu mencapai 7 hingga 12 persen dan berpotensi menurunkan kualitas hijauan pakan ternak.

“Produksi biomassa hijauan di sini sangat fluktuatif. Pada musim hujan bisa mencapai 3,2 ton per hektar, namun saat kemarau merosot drastis hingga di bawah 1 ton,” jelas Ir. Dominggus B. Osa.

Penggembalaan Tradisional Picu Tekanan Lahan

Riset lapangan tersebut juga mengungkap rendahnya kapasitas tampung lahan yang hanya berkisar 0,35–0,50 ST per hektar per tahun. Kondisi itu diperparah dengan pola penggembalaan tradisional tanpa sistem rotasi yang memicu tekanan berlebih terhadap lahan.

Mahasiswa menemukan indikasi degradasi tanah mulai terjadi, terutama pada area dengan populasi ternak yang tinggi.

Selain faktor alam, produktivitas kawasan Bukit Teletubbies juga terkendala terbatasnya sumber air dan minimnya penerapan teknologi konservasi tanah serta air.

Jika tidak dibarengi intervensi teknologi dan manajemen pastura modern, potensi kawasan tersebut dinilai belum mampu dimaksimalkan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengembangan peternakan daerah.

Wujud Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi

Kegiatan praktikum ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana mahasiswa didorong menghubungkan teori akademik dengan kondisi nyata di lapangan.