Aksi penyesuaian portofolio oleh pengelola dana asing menjelang tanggal efektif 29 Mei 2026 turut memicu passive outflow yang agresif di pasar saham domestik.

Tekanan eksternal juga memperburuk sentimen pasar. Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama (higher for longer), sehingga mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.520 per dolar AS.

Iklan

Di sisi lain, lonjakan harga minyak mentah dunia di atas USD105 per barel akibat konflik geopolitik Timur Tengah dan krisis keamanan Selat Hormuz turut menambah tekanan pasar global.

Saham Defensif Masih Diburu Investor Asing

Meski IHSG terkoreksi luas, IPOT mencatat terdapat pergerakan sektoral yang cukup selektif. Sektor energi mengalami tekanan akibat faktor teknikal dari keluarnya saham DSSA dan BREN dari indeks MSCI.

Sebaliknya, sektor transportasi mencatat kinerja positif berkat lonjakan saham ELPI setelah aksi korporasi divestasi anak usaha ke grup Prajogo Pangestu.

“Pergerakan ini menunjukkan bahwa di tengah market-wide correction, pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki corporate action dan katalis spesifik yang jelas,” jelas Imam.