Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Kebijakan demi kebijakan tetap saja tidak ada perubahan yang diharapkan pelaku usaha,” katanya.
Menurut Subandi, dampak langsung dari pelemahan rupiah adalah lonjakan biaya impor yang kini meningkat sekitar 15% hingga 20% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan tersebut mencakup harga barang dari negara asal, ongkos pengiriman, hingga biaya pelabuhan yang menggunakan mata uang dolar AS.
“Yang pasti harga beli barang dari negara asal naik, ongkos pengiriman seperti transportasi laut naik, dan biaya pelabuhan juga meningkat,” tegasnya.
Meski demikian, rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis pada penutupan perdagangan terakhir. Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,09% ke level Rp16.975 per dolar AS. Namun, dalam perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh Rp17.026 per dolar AS, yang menjadi level terlemah sepanjang sejarah.
Ekonom menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar global.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menyebut sentimen negatif eksternal tersebut berdampak pada meningkatnya tekanan jual di pasar keuangan domestik, khususnya Surat Utang Negara (SUN).
