Kebangkitan Kristus adalah proklamasi bahwa tidak ada satu pun nyawa yang layak dikubur dalam pengasingan atau dalam ketidaktahuan yang bisa dicegah. Merangkul ODHA sekaligus melindungi yang belum terinfeksi adalah dua sisi dari satu panggilan yang sama yaitu menjaga keutuhan tubuh kemanusiaan NTT.

Keenam luka ini lahir dari tubuh yang lapar, terisolasi, diperdagangkan, diabaikan hukum, takut akan kebijakan, dieksploitasi, hingga distigma adalah satu tubuh kemanusiaan NTT yang sedang menantikan kebangkitan. Dan kebangkitan itu tidak akan datang tanpa tangan-tangan yang bersedia menjadi instrumennya.

III. Militansi Perjuangan yang Berakar pada Kasih

Refleksi krusial ialah bagaimana cara pandang kita pada militansi pergerakan, sebab perziarahan ini bukan militansi yang tumbuh dari kemarahan semata, melainkan dari kasih yang telah diperbarui. Kita berjuang bukan karena benci pada penindas, melainkan karena cinta kepada yang tertindas.

Sebagai manusia yang lahir baru melalui momentum paskah ini maka kita adalah individu yang telah melewati kematian ilusi, ilusi bahwa kemiskinan NTT adalah takdir yang harus diterima, ilusi bahwa infrastruktur yang tidak merata adalah wajar karena kita “jauh dari pusat”, ilusi bahwa satu orang tidak cukup membuat perubahan. Kebangkitan Kristus mematahkan semua ilusi itu. Ia memanggil kita untuk berdiri, bergerak, dan hadir.