Namun angka kemiskinan bukan hanya soal penghasilan, tetapi terkait anak yang tumbuh tanpa gizi cukup, ibu yang melahirkan tanpa bidan, kepala keluarga yang terpaksa menjual satu-satunya pilihan yang tersisa: tubuh dan tenaga anggota keluarganya kepada sindikat TPPO.

Kemiskinan adalah tanah kering di mana hampir semua luka NTT bertumbuh. Ia membuat orang mudah termanipulasi janji kerja di luar negeri. Ia membuat anak putus sekolah dan rentan terhadap eksploitasi seksual. Ia membuat komunitas tidak berdaya menuntut keadilan karena tidak mampu membayar biaya keadilan.

Ketika GMKI memperjuangkan keadilan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, kita sedang mencabut akar yang menopang hampir seluruh sistem penindasan di NTT. Inilah mengapa advokasi kemiskinan bukan isu sampingan, melainkan prasyarat dari semua perjuangan lainnya.

Tubuh yang Terisolasi: Ketidakmerataan Infrastruktur dan Pembangunan

Ketimpangan infrastruktur di NTT bukan hanya soal jalan yang rusak atau jembatan yang belum dibangun. Ia adalah cermin dari ketimpangan perhatian pemerintah terhadap warganya. Sementara kota Kupang terus berkembang dengan cahaya gemerlap dan gedung tinggi megahnya, kecamatan-kecamatan di Amfoang, Timor Tengah Selatan, Sumba, Sabu dan puluhan daerah kepulauan masih berjuang mendapatkan listrik yang stabil, sinyal telepon, dan akses air bersih.