Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Pemerintah Presiden Prabowo Subianto diminta untuk mewaspadai dorongan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan ekonomi, tetapi juga beririsan dengan kepentingan politik tertentu.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai wacana kenaikan BBM saat ini memiliki dimensi yang lebih kompleks. Selain tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia dan beban subsidi, kebijakan tersebut berpotensi memicu gejolak sosial-politik.
“Secara ekonomi, alasan kenaikan BBM memang terlihat rasional. Namun dalam konteks sosial-politik, kebijakan ini bisa menjadi pemicu gejolak,” kata Amir, dikutip Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, narasi publik saat ini lebih banyak menekankan urgensi fiskal, sementara pemerintah dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan mempertahankan daya beli masyarakat.
Menurut Amir, kondisi psikologis masyarakat yang belum sepenuhnya stabil menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pemerintah. Sentimen negatif terhadap pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, dinilai masih berkembang di sejumlah kelompok.
“Dalam situasi seperti ini, kebijakan yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat seperti BBM sangat sensitif. Salah timing bisa memicu aksi massa yang meluas,” ujarnya.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

