Oelamasi, RakyatNTT.ID Kondisi Jalan Koledoki di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi sorotan warga. Akses vital yang menghubungkan antar desa sekaligus jalur menuju area persawahan itu kini mengalami kerusakan parah, meski baru diperbaiki sekitar dua tahun lalu.

Kerusakan jalan tersebut berdampak langsung pada aktivitas masyarakat. Bagi warga setempat, Jalan Koledoki bukan sekadar infrastruktur biasa, melainkan urat nadi kehidupan sehari-hari, mulai dari mobilitas warga hingga distribusi hasil pertanian.

“Baru dikerjakan, tapi sekarang sudah rusak lagi. Kami harap ada perhatian serius,” ujar Natalia S. Pandie, warga setempat.

Iklan

Keluhan itu disampaikan warga saat pertemuan dengan anggota DPRD Kabupaten Kupang, Mesak Mbura, dalam agenda reses yang digelar akhir pekan lalu. Hingga saat ini, warga mengaku belum melihat adanya langkah perbaikan dari pihak terkait.

Selain persoalan infrastruktur, warga juga menyoroti sulitnya akses layanan kesehatan, khususnya dalam penggunaan BPJS. Proses administrasi yang dinilai rumit membuat sebagian masyarakat kesulitan mendapatkan layanan medis.

“Kalau mau pakai BPJS itu susah sekali,” kata Robinson K. Sinlae.

Kondisi tersebut membuat warga berada dalam dilema, terutama saat membutuhkan pelayanan kesehatan namun terhambat oleh prosedur yang dianggap berbelit.

Menanggapi berbagai aspirasi itu, Mesak Mbura menyatakan seluruh keluhan warga telah dicatat dan akan diperjuangkan dalam pembahasan di DPRD. Namun, ia mengakui adanya keterbatasan anggaran daerah yang menjadi kendala utama.

“Usulan tetap kami perjuangkan, tetapi untuk perbaikan jalan belum bisa dipastikan waktunya karena ada efisiensi anggaran dari pusat,” jelasnya.

Terkait layanan kesehatan, Mesak menyebut pemerintah daerah terus berupaya melakukan perbaikan sistem, termasuk penyederhanaan administrasi di RSUD Naibonat agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan.

Di sisi lain, warga juga mengeluhkan minimnya bantuan alat pertanian serta keterbatasan sumber air, seperti sumur bor. Hal ini dinilai berdampak pada produktivitas pertanian, terutama di tengah ketidakpastian hasil panen.

Mesak menegaskan pentingnya perhatian lebih terhadap sektor pertanian, tidak hanya melalui bantuan, tetapi juga strategi keberlanjutan ekonomi berbasis hasil tani.

Sebagai langkah antisipasi, warga juga diimbau untuk tidak langsung menjual seluruh hasil panen. Menyimpan sebagian hasil dinilai penting guna menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga di tengah kondisi yang tidak menentu. (*/rnc)