Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Oelamasi, RakyatNTT.ID – Harga ternak sapi di Kabupaten Kupang terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, harga jual di tingkat peternak bahkan hanya berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram, kondisi yang dinilai sangat merugikan.
Keluhan tersebut disampaikan para peternak di Kecamatan Amarasi Timur, salah satu wilayah penghasil sapi berkualitas di Kabupaten Kupang. Mereka menilai harga yang ditetapkan pengusaha tidak sebanding dengan biaya dan waktu pemeliharaan ternak yang memakan waktu bertahun-tahun.
Salah satu peternak, Faizal, mengungkapkan bahwa penurunan harga sudah terjadi sejak 2023. Saat itu harga masih berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram, namun kemudian turun menjadi Rp32 ribu dan sempat naik ke Rp35 ribu, sebelum kembali stagnan di kisaran Rp30 ribu hingga sekarang.
“Harga tidak pernah lebih dari itu sampai sekarang. Perlu ada kebijakan dari pemerintah supaya kami juga bisa untung,” ujar Faizal saat ditemui di wilayah Siuf, Amarasi Timur.
Sapi Sulit Terjual
Menurut Faizal, banyak sapi di Amarasi Timur yang sebenarnya sudah memenuhi standar berat minimal 275 kilogram sesuai regulasi Pemerintah Provinsi NTT. Namun, sapi-sapi tersebut kerap sulit terjual karena tidak adanya kesepakatan harga antara peternak dan pembeli.
“Ada yang menolak jual karena harga terlalu rendah, tapi ada juga yang terpaksa jual karena kebutuhan mendesak,” jelasnya.
Para peternak juga mengaku kesulitan mendapatkan kuota rekomendasi pengiriman dari Dinas Peternakan Kabupaten Kupang. Padahal, rekomendasi tersebut diperlukan agar mereka bisa menjual langsung ke pasar luar daerah.
“Sepertinya kami sulit dapat kuota, jadi tidak bisa jual sendiri,” tambahnya.
Harga Dinilai Dikuasai Pembeli
Peternak menilai harga di lapangan cenderung dikendalikan oleh pembeli atau pengusaha. Mereka menyebut para pembeli sering menawarkan harga yang hampir sama, sehingga posisi tawar peternak menjadi lemah.
“Pembeli seperti sudah kompak. Kita tidak jual juga tidak bisa karena butuh uang untuk kebutuhan rumah tangga,” ungkap Faizal.
Pengusaha Sebut Biaya Tinggi
Di sisi lain, salah satu pengusaha sapi yang enggan disebutkan namanya membantah bahwa harga sengaja ditekan. Ia menyebut banyak faktor yang memengaruhi harga beli, termasuk biaya operasional yang cukup besar.
Menurutnya, biaya tambahan di luar biaya resmi seperti perizinan, transportasi, dan pemeliharaan bisa mencapai Rp600 ribu per ekor.
“Pengeluaran banyak, baik yang resmi maupun tidak resmi. Itu yang harus kami hitung supaya usaha tetap berjalan,” ujarnya.
Ia juga mengklaim bahwa pada awal 2026, harga sapi di beberapa wilayah Amarasi sempat mencapai Rp40 ribu per kilogram, meski kondisi di lapangan bisa berbeda.
Harapan Intervensi Pemerintah
Para peternak berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat turun tangan mengatur harga agar lebih adil dan tidak merugikan peternak di tingkat bawah.
Mereka menilai intervensi kebijakan sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan pasar serta memastikan keberlangsungan usaha peternakan di daerah tersebut. (rnc04)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

