“Kalau ita kerja gotong royong seperti ini, hasilnya pasti lebih baik. Sinergi semua pihak akan menghasilkan peningkatan yang berlipat dan ini harus menjadi pola kerja ke depan,” tegasnya.

Hilirisasi produk jagung juga dinilai penting agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Jagung diharapkan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk turunan, dengan dukungan pelatihan dan akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank NTT.

Melki mendorong agar model kerja sama ini dapat direplikasi di berbagai wilayah di NTT guna memperkuat identitas provinsi sebagai sentra produksi jagung nasional.

Iklan

Direktur Tani Optima Group Ferdy Purnama, menyebut program ekosistem jagung ini telah melalui tahap pilot project selama 5 hingga 6 bulan di lima wilayah di NTT.

Dia mengatakan, Implementasi program ini mengadopsi pola kerja yang telah berhasil diterapkan di Pulau Jawa, serta diperkuat dengan pembangunan sistem

kontrol terintegrasi memanfaatkan teknologi Strava dan IRV yang mampu menyajikan data secara real time dalam pengelolaan komoditas jagung.

“Dari sisi hasil, terjadi peningkatan signifikan. Setelah penerapan ekosistem, produktivitas meningkat menjadi 5-6 ton per hektar,” jelasnya.