Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Seba, RakyatNTT.ID – Bupati Sabu Raijua, Krisman B. Riwu Kore, S.E., M.M., secara resmi membuka kegiatan “Bhineka Iklim dalam Tutur” yang diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Kamis (16/4/2026). Kegiatan ini berlangsung di halaman samping Gedung Perpustakaan Isak Huru Doko.
Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan YKAN Jakarta dan Kupang, perwakilan WTID Yogyakarta, narasumber Rowi Kaka Mone, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), panitia penyelenggara, serta para peserta lomba.
Dalam sambutannya, Bupati Krisman menyoroti tantangan besar yang dihadapi Kabupaten Sabu Raijua sebagai wilayah kepulauan kecil akibat perubahan iklim. Ia menyebut dampak yang dirasakan meliputi kekeringan ekstrem, keterbatasan air bersih, abrasi pantai, gelombang pasang, hingga badai yang berpotensi mengisolasi wilayah.
Meski demikian, Bupati menegaskan bahwa daerahnya memiliki kekuatan besar yang sering terabaikan, yakni kearifan lokal dan warisan budaya. Pengetahuan tersebut diwariskan oleh leluhur melalui cerita rakyat, lagu, ritual adat, hingga praktik kehidupan sehari-hari yang selaras dengan alam.
Ia mengapresiasi langkah YKAN dan panitia yang mengusung pendekatan seni dan budaya sebagai sarana membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menghadapi perubahan iklim.
“Kegiatan ini tidak hanya mendokumentasikan pengetahuan budaya tentang pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat regenerasi budaya melalui keterlibatan aktif siswa SD dan SMP,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan ini membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, pelaku seni, dan dunia pendidikan. Bupati juga menilai kegiatan ini mampu menghidupkan kembali siklus kesadaran masyarakat, mulai dari memahami risiko, membangun kesadaran, memperkuat norma sosial, hingga mendorong aksi nyata menjaga lingkungan.
Bupati Krisman mengaku bangga atas antusiasme peserta, terlihat dari 102 naskah lomba tutur yang diperlombakan, terdiri dari 50 naskah dari jenjang SD dan 52 naskah dari SMP.
Menurutnya, tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya belajar tentang perubahan iklim secara ilmiah, tetapi juga melalui pendekatan budaya sebagai bagian dari cara hidup.
Melalui pameran yang bersifat partisipatif dan kolaboratif, ia berharap masyarakat dapat melihat kekayaan budaya lokal sebagai sumber solusi dalam menghadapi tantangan iklim, termasuk menjaga pohon sebagai sumber kehidupan, ketersediaan air, serta keseimbangan ekosistem pesisir.
Mengakhiri sambutannya, Bupati menegaskan bahwa kegiatan “Bhineka Iklim dalam Tutur” tidak boleh berhenti sebagai seremoni semata. Ia menekankan pentingnya menjadikan kegiatan ini sebagai gerakan berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung program yang mengintegrasikan pendidikan, budaya, dan pelestarian lingkungan dalam pembangunan daerah. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

