Bareskrim saat ini fokus menyinkronkan seluruh alur kejahatan, mulai dari pembuatan skrip, distribusi, hingga dampak yang ditimbulkan kepada korban. Langkah ini dilakukan untuk memetakan secara utuh ekosistem kejahatan siber tersebut.

Di Indonesia, polisi telah mengidentifikasi sembilan perusahaan yang menjadi korban. Namun, masih didalami apakah serangan dilakukan langsung oleh tersangka atau oleh pihak lain yang membeli skrip tersebut.

“Khusus di Indonesia, ada sembilan entitas perusahaan yang menjadi korban dan masih kami telusuri asal serangannya,” kata Himawan.

Iklan

Dalam pengungkapan kasus lintas negara ini, Polri bekerja sama dengan FBI, termasuk dalam pertukaran data korban melalui sistem Internet Crime Complaint Center (IC3). Platform tersebut memungkinkan identifikasi korban kejahatan siber dari berbagai negara.

Kerja sama ini diharapkan dapat membantu aparat dalam menelusuri jaringan yang lebih luas serta menjerat pelaku lain yang terlibat dalam distribusi dan penggunaan skrip phishing tersebut.

Sebelumnya, Dittipidsiber Bareskrim Polri bersama Ditreskrimsus Polda NTT berhasil menangkap kedua tersangka di Kota Kupang. GWL diketahui merupakan lulusan SMK Multimedia yang mempelajari pembuatan skrip secara autodidak, sementara FYT berperan mengelola keuangan hasil kejahatan.