Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Bahkan, kata Wemfried, pihak UPF juga menyatakan bahwa wilayah Naktuka telah masuk dalam teritori Timor Leste berdasarkan peta digital.
“UPF sampaikan kalau datang ke Naktuka dengan membawa bendera merah putih mereka tidak terima. Mereka bilang itu bendera Pulau Jawa. Kalau datang bawa bendera Timor atau bendera Nusa Tenggara Timur mereka terima,” ungkapnya.
Perjanjian Bokos Belum Ditindaklanjuti
Situasi ini memicu kekecewaan masyarakat Amfoang. Pasalnya, pada 2017 melalui Perjanjian Bokos telah disepakati bahwa wilayah Naktuka merupakan bagian dari Amfoang dan masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun hingga kini warga masih belum bisa mengakses wilayah tersebut. Bahkan masyarakat juga tidak diperkenankan masuk oleh aparat pengamanan perbatasan dari pihak Indonesia.
Wemfried menjelaskan bahwa salah satu penyebab masalah ini belum selesai adalah belum adanya pemasangan pilar batas negara di Sungai Noelbesi sebagai tindak lanjut dari perjanjian tersebut.
“Padahal saat perjanjian Bokos itu, perwakilan Timor Leste sampai tiga kali berdiri sebagai tanda setuju bahwa batas negara berada di Noelbesi,” katanya.
Interaksi Ekonomi dan Perpindahan Penduduk
Di tengah sengketa wilayah tersebut, hubungan sosial antara masyarakat Amfoang Timur dan warga Citrana di Distrik Oecusse, Timor Leste, masih berjalan baik. Bahkan aktivitas ekonomi lintas batas tetap berlangsung.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

