Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dari sekitar 3.442 desa dan kelurahan di NTT, setiap wilayah didorong memiliki minimal satu produk unggulan. Sekolah, khususnya SMA dan SMK, juga diarahkan menghasilkan produk melalui program OSOP sebagai bagian dari pendidikan kewirausahaan.
“Kalau setiap desa, sekolah, dan komunitas punya produk, maka kita akan punya ribuan produk lokal. Ini kekuatan ekonomi baru,” jelas Melki.
Di Kabupaten TTS sendiri terdapat sekitar 96 sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB yang dinilai berpotensi menghasilkan puluhan hingga ratusan produk jika dikelola secara serius.
NTT Mart diposisikan sebagai pusat distribusi atau “rumah besar” bagi produk-produk tersebut. Produk dari desa, sekolah, dan komunitas akan dikumpulkan, dikemas secara profesional, lalu dipasarkan.
“Ini bukan sekadar jual beli, tapi membangun ekosistem ekonomi,” tambahnya.
Melki juga menyoroti potensi perputaran uang di TTS yang diperkirakan mencapai Rp2,5 hingga Rp3 triliun per tahun. Ia mendorong sekitar 11 ribu aparatur sipil negara (ASN) di TTS untuk membelanjakan minimal Rp100 ribu per bulan untuk produk lokal.
“ASN harus jadi motor penggerak konsumsi produk lokal. Kalau ini berjalan, perputaran uang bisa mencapai Rp1,1 miliar per bulan,” ujarnya.
