Kenaikan tersebut juga dikaitkan dengan kondisi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada terganggunya sekitar 20 persen pasokan minyak dunia di Selat Hormuz.

“Skema harga Gasoline dan Gasoil naik sejalan dengan tren HIP dalam upaya mendukung arahan pemerintah untuk hemat energi akibat situasi perang yang menyebabkan harga minyak dunia naik ekstrem,” demikian bunyi keterangan dalam dokumen tersebut.

Meski begitu, hingga berita ini ditulis, pihak Pertamina belum memberikan konfirmasi resmi terkait kabar kenaikan harga BBM non subsidi tersebut.

Sebelumnya, ekonom Universitas Airlangga (Unair), Wisnu Wibowo, telah memprediksi adanya potensi kenaikan harga BBM non subsidi. Ia menilai hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari mekanisme pasar internasional.

“Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” ujarnya.

Wisnu memperkirakan kenaikan harga BBM non subsidi tidak akan melebihi 10 persen. Faktor utama pemicu kenaikan antara lain lonjakan harga minyak dunia, acuan Mean of Platts Singapore (MOPS), serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Hingga kini, masyarakat masih menunggu kepastian resmi dari Pertamina terkait kebenaran kabar tersebut. (*/rnc)