Ia menegaskan pendekatan adat dan budaya harus menjadi landasan utama. Meski batas negara dapat disepakati secara administratif, kehidupan masyarakat Timor yang berasal dari satu leluhur tetap harus dijamin haknya untuk hidup berdampingan secara damai meski berada di dua negara berbeda.

“Jadi menyelesaikan masalah kedua negara ini di atas tanah Timor harus menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda. Orang Timor harus dibuat nyaman dulu, sehingga mereka sendiri sadar bagaimana menyelesaikan batas. Biar mereka berunding dengan ala Timor,” jelasnya.

Protes Masyarakat Bentuk Kekecewaan

Eurico juga menyoroti aktivitas masyarakat Citrana-Oecusse (RDTL) yang beraktivitas di lahan Naktuka serta protes masyarakat Oepoli yang menilai terjadi ketidakadilan dalam pemanfaatan lahan sawah.

Iklan

Menurutnya, situasi tersebut merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah kedua negara yang dinilai belum mampu memberikan kepastian setelah puluhan tahun polemik berlangsung.

“Karena sebenarnya ini akibat penjajahan dulu yang memisahkan mereka. Padahal mereka ini sebenarnya adik dan kakak,” tegasnya.

Tantang Presiden Prabowo

Dalam pernyataannya, tokoh pro integrasi Timor Timur itu juga melontarkan kritik keras kepada Pemerintah Pusat yang dinilai tidak serius menangani persoalan batas negara RI-RDTL.