Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ketidakpastian mengenai durasi, cakupan tarif, serta kemungkinan tantangan hukum dan politik turut meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Data Ekonomi AS Melemah, PCE Inti Naik
Dari sisi data ekonomi, Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV tahun lalu tercatat melambat menjadi 1,4 persen secara tahunan (YoY), turun dari sebelumnya 4,4 persen. Perlambatan tersebut dipengaruhi penutupan pemerintah AS selama 43 hari.
Sementara itu, data PCE inti—indikator inflasi favorit The Fed—meningkat menjadi 3,0 persen dari 2,8 persen, masih berada di atas target 2 persen bank sentral. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Defisit APBN Januari 2026 Terkendali
Dari dalam negeri, Kementerian Keuangan melaporkan APBN hingga akhir Januari 2026 mengalami defisit Rp54,6 triliun atau setara 0,21 persen terhadap PDB.
Pendapatan negara tercatat Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target tahunan Rp3.153,6 triliun. Sementara belanja negara mencapai Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari target Rp3.842,7 triliun.
Artinya, belanja negara masih lebih tinggi dibandingkan pendapatan sehingga memicu defisit. Meski demikian, angka tersebut dinilai masih dalam koridor desain APBN 2026.
