Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Pendataan dilakukan secara door to door sejak minggu lalu. Penyuluh seperti Ibu Marleni Modok dan Bapak Toni Hau berperan besar dalam membina akseptor, menjawab keraguan, hingga memastikan proses pemasangan berjalan lancar,” jelas Harleni.
Dari total akseptor yang dilayani, 30 orang memilih implan, sementara 20 lainnya menggunakan IUD.
Salah satu akseptor, Serli Pelle, ibu rumah tangga asal Desa Tesabela, mengaku merasa lega setelah mengikuti pelayanan KB tersebut.
“Setelah melahirkan anak keempat, saya khawatir hamil lagi terlalu cepat. Alhamdulillah, hari ini dipasang implan. Prosesnya cepat dan tidak sakit,” ungkapnya sambil tersenyum.
Selain layanan medis, kegiatan ini juga disertai penyuluhan komprehensif tentang manfaat MKJP, efek samping yang minimal, serta hak reproduksi perempuan. Tim Penyuluh KB turut memberikan edukasi mengenai pentingnya perencanaan keluarga dalam meningkatkan kualitas hidup rumah tangga.
dr. Defrima menegaskan bahwa dampak program KB tidak hanya bersifat medis, tetapi juga sosial dan ekonomi.
“KB adalah investasi jangka panjang. Dengan 50 akseptor baru hari ini, kami optimistis dapat menekan kemiskinan struktural akibat keluarga besar,” katanya.
Ia menambahkan, Puskesmas Korbafo menargetkan penurunan Unmet Need KB hingga 10 persen pada tahun 2026 melalui kolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao dan BKKBN.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

