Dalam perspektif pembangunan manusia ala Amartya Sen, kesejahteraan bukan sekadar pendapatan, melainkan kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan yang ia nilai berharga. Dan dalam kasus ini, seorang anak sepuluh tahun sudah kehilangan kemampuan itu.

Akhirnya, tragedi ini seperti cermin retak yang memantulkan wajah kita sendiri. Ia memaksa kita menyadari bahwa kemiskinan bukan sekadar kekurangan uang, tetapi juga kekurangan pelukan sosial, kekurangan perhatian psikologis, dan kekurangan sistem yang memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi dunia.

Tentu kita tidak bisa menghidupkan kembali anak itu. Tetapi kita masih bisa memastikan bahwa surat perpisahannya tidak menjadi tradisi baru dalam sejarah kemiskinan Indonesia.

Iklan

Kadang sejarah bergerak bukan karena pidato besar, melainkan karena luka kecil yang akhirnya membuka mata banyak orang.

Mungkin tragedi ini adalah pengingat paling pahit bahwa kemajuan bangsa tidak diukur dari panjang jalan tol, tetapi dari seberapa jauh negara, agama, dan masyarakat mampu berjalan mendampingi anak-anak yang nyaris kehilangan harapan.

Dan jika dari tragedi ini kita belajar membangun sistem perlindungan yang lebih manusiawi, maka air mata yang jatuh hari ini mungkin akan berubah menjadi hujan kesadaran yang menumbuhkan generasi yang tidak lagi merasa harus menghilang agar dunia menjadi lebih ringan. (*)