Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Negara seperti Finlandia dan Jepang pernah menghadapi krisis bunuh diri remaja, tapi mereka merespons dengan pendekatan lintas sektor, memasukkan konseling psikologis di sekolah dasar, membangun hotline nasional, serta memperkuat intervensi komunitas.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi sistem sosial berbasis gotong royong yang jauh lebih kaya. Namun, kita sering kali terjebak dalam ritual seremoni bantuan yang lebih sibuk memotret serah terima sembako daripada memetakan luka psikologis penerimanya.
Lalu kita masuk pada babak yang lebih satiris sekaligus tragis. Zakat, yang secara teologis adalah sistem redistribusi kekayaan paling revolusioner dalam sejarah Islam, sering kali berubah menjadi acara seremonial.
Tak jarang kira lebih fokus pada pembagian paket Ramadan lengkap dengan spanduk sponsor yang lebih besar dari isi sembakonya. Padahal, delapan pihak yang berhak menerima zakat, apa pun agamanya, tak hanya hidup pada bulan Ramadan.
Dalam teori ekonomi Islam klasik, zakat bertujuan membangun social safety net yang memastikan kelompok rentan tidak jatuh ke jurang keputusasaan struktural. Hanya saja dalam praktiknya, zakat sering berhenti sebagai proyek karitatif musiman, bukan sistem perlindungan berkelanjutan yang mampu mendeteksi anak-anak yang bahkan tidak memiliki buku tulis.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

