“Kehadiran kita di sini adalah cermin bahwa kita hidup dalam peradaban yang menjunjung tinggi adat istiadat. Ritual ini menjadi doa agar rumah adat membawa keberkatan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi anak cucu kita ke depan,” ujar Bupati.

Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada para pemangku adat (Mosalaki), tokoh masyarakat, dan warga Desa Renduteno yang terus menjaga nilai gotong royong dan kekeluargaan.

Menurutnya, kekuatan masyarakat adat terletak pada solidaritas sosial yang harus terus dipertahankan di tengah tantangan perubahan zaman yang kian cepat.

Iklan

“Jika adat tidak dijaga, generasi mendatang berisiko kehilangan jati diri. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus berjalan bersama masyarakat adat dalam merawat dan mempertahankan warisan budaya ini,” tegasnya.

Sebagai penutup rangkaian adat, Bupati menyaksikan atraksi simbolik berupa pemecahan kelapa dan saling melempar antarwarga sebagai lambang kebersamaan dan persatuan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif, di mana masyarakat adat Bo’asiko menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Bupati Nagekeo.

Turut mendampingi Bupati dalam kegiatan tersebut, Kepala Desa Renduteno Stefanus Papu, Ketua Adat Bo’asiko Zakarias Sela, para tokoh adat, serta warga setempat yang memadati lokasi upacara adat. (*/rnc)