Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Mbay, RakyatNTT.ID – Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, menghadiri prosesi adat Lengi Sa’o atau Pendinginan Rumah Adat yang digelar di Kampung Adat Lari Bo’asiko, Desa Renduteno, Selasa (10/2/2026).
Kehadiran orang nomor satu di Nagekeo ini menjadi simbol komitmen Pemerintah Daerah dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat adat.
Ritual adat Lengi Sa’o kali ini difokuskan pada dua rumah adat, yakni Sa’o Dadho Pago dan Sa’o Keli Kida. Momentum tersebut menjadi istimewa karena kedua rumah adat telah memasuki tahun ketiga sejak dibangun kembali. Kondisi ini mencerminkan keteguhan masyarakat adat Bo’asiko dalam merawat struktur sosial serta warisan fisik leluhur di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi pengalungan dan penerimaan secara adat kepada Bupati Nagekeo, dilanjutkan dengan santap siang bersama di dalam rumah adat.
Nuansa kebudayaan semakin terasa saat Bupati menyaksikan langsung tarian dan nyanyian adat tandak yang dibawakan penuh semangat di pelataran kampung adat.
Dalam sambutannya, Bupati Simplisius Donatus menegaskan bahwa Lengi Sa’o bukan sekadar seremoni, melainkan ritual yang sarat makna filosofis. Secara harfiah, lengi berarti mendinginkan, yang dimaknai sebagai upaya menghadirkan suasana sejuk, aman, dan damai, tidak hanya bagi penghuni rumah adat, tetapi juga bagi seluruh masyarakat di sekitarnya.
“Kehadiran kita di sini adalah cermin bahwa kita hidup dalam peradaban yang menjunjung tinggi adat istiadat. Ritual ini menjadi doa agar rumah adat membawa keberkatan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi anak cucu kita ke depan,” ujar Bupati.
Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada para pemangku adat (Mosalaki), tokoh masyarakat, dan warga Desa Renduteno yang terus menjaga nilai gotong royong dan kekeluargaan.
Menurutnya, kekuatan masyarakat adat terletak pada solidaritas sosial yang harus terus dipertahankan di tengah tantangan perubahan zaman yang kian cepat.
“Jika adat tidak dijaga, generasi mendatang berisiko kehilangan jati diri. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus berjalan bersama masyarakat adat dalam merawat dan mempertahankan warisan budaya ini,” tegasnya.
Sebagai penutup rangkaian adat, Bupati menyaksikan atraksi simbolik berupa pemecahan kelapa dan saling melempar antarwarga sebagai lambang kebersamaan dan persatuan.
Acara kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif, di mana masyarakat adat Bo’asiko menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Bupati Nagekeo.
Turut mendampingi Bupati dalam kegiatan tersebut, Kepala Desa Renduteno Stefanus Papu, Ketua Adat Bo’asiko Zakarias Sela, para tokoh adat, serta warga setempat yang memadati lokasi upacara adat. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

