Atau kalau boleh saya menduga, jangan-jangan survei ini hanyalah alibi menutupi kegagalan besar pemerintah mengelola negara dan merawat rakyatnya. Ataukah, ini mungkin sebuah teknik pengalihan perhatian, seolah-olah rakyat NTT hidup baik-baik saja —padahal kenyataannya sangat jauh dari kata layak.

Saya paham, pemerintah kita di mana-mana memang sudah terbiasa mencitrakan dirinya dengan statistik. Statistik dibuatnya memanjakan mata dan memberikan rasa nyaman pada rakyatnya. Padahal, kinerja pemerintah, kalau menggunakan kaca mata A.G. Miller (1999), hanya bisa diukur melalui perubahan nyata. Kepuasan publik baru dianggp baik kalau harapan selaras dengan kenyataan. Jika kenyataan tak sesuai harapan, maka kepuasan itu hanyalah ilusi—menenangkan, tetapi menyesatkan.

Ilusi angka ini menjadi kian tragis ketika dibenturkan dengan realitas sosial akhir-akhir ini. Kasus tragis seorang anak SD kelas IV di Kabupaten Ngada, tewas gantung diri karena ketidakmampuan membeli buku dan pena—adalah bukti, bahwa angka survei tak mencerminkan penderitaan. Angka survei hanyalah bayangan yang menipu—mengaburkan wajah kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan anak anak di pelosok negeri.

Sampai hari ini, masyarakat NTT butuh perubahan nyata. Bukan klaim kepuasan yang tak berdasar. Ketika harapan masyarakat tidak terwujud dalam kenyataan yang mereka alami—ketika layanan dasar yang mereka terima tak memenuhi ekspektasi—angka survei yang tinggi hanya menjadi kecantikan palsu. Tak lebih dari sebuah dekorasi untuk menutupi kenyataan pahit.