Mbay, RakyatNTT.ID Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada melakukan kegiatan penanaman pohon di sekitar Mata Air Dhuge, Desa Rigi, Kecamatan Boawae, pada Jumat, 23 Januari 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan pelestarian lingkungan untuk mencegah kerusakan hutan dan mata air akibat eksploitasi berlebihan serta melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem.

Dalam kegiatan tersebut, ratusan anakan pohon ditanam, di antaranya bambu dan gayam, yang dinilai memiliki peran penting dalam menjaga daerah resapan air. Penanaman dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur pemerintah, aparat keamanan, lembaga keagamaan, organisasi lingkungan, pelajar, serta masyarakat pengguna air.

Turut hadir mendampingi Wakil Bupati Nagekeo, antara lain Plt. Kepala Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Nagekeo, Forkopincam Boawae, prajurit Yonif 834 Wakanga Mere, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Pastor Paroki Gako RD Sony Lulu dan RD Rino, para kepala desa dan lurah, tokoh adat, serta tokoh masyarakat.

Kegiatan ini diikuti warga pemanfaat air dari enam wilayah, yakni Desa Rigi, Desa Leguderu, Kelurahan Natanage, Natanage Timur, Nagesepadhi, dan Olakile. Selain itu, para pelajar dari SMAK St. Fransiskus Xaverius Boawae, SMPSK Kotagoa, dan SPP St. Isidorus Boawae juga turut ambil bagian.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Nagekeo menegaskan bahwa persoalan air kini menjadi masalah serius di hampir seluruh wilayah Nagekeo.

“Bicara air bukan lagi masalah mudah, tetapi sudah menjadi sulit. Hampir semua wilayah di Kabupaten Nagekeo mengeluh tentang air, padahal Boawae dulu dikenal sebagai gudangnya air,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, berbagai dampak negatif telah dirasakan akibat kelalaian manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan, mulai dari berkurangnya debit mata air, rusaknya daerah tangkapan air, hingga pencemaran lingkungan.

Menurutnya, persoalan ketersediaan air bersih tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus segera ditangani melalui gerakan nyata pelestarian lingkungan dengan semangat To’o Jogho Waga Sama.

“Kalau kita bicara uang, memang kita tidak punya. Tapi yang harus kita mulai sekarang adalah kerja sama dan gotong royong,” tegasnya.

Wabup Gonzalo menekankan bahwa gerakan pelestarian mata air bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan sumber air bagi generasi kini dan mendatang.

“Bambu yang ditanam adalah simbol harapan, simbol kehidupan, dan simbol komitmen bersama menjaga keseimbangan alam,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Nagekeo secara resmi menetapkan 23 Januari sebagai Hari Gerakan Pelestarian Mata Air Tingkat Kabupaten Nagekeo. Ia juga menginstruksikan agar seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) terlibat aktif dalam kegiatan penghijauan.

“Setiap Jumat selama musim hujan, seluruh ASN—kecuali yang menangani administrasi—turun langsung melakukan penghijauan. Kita identifikasi seluruh mata air di Kabupaten Nagekeo dan lakukan penanaman secara bergilir,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Boawae Vitalis Bai mengungkapkan bahwa kegiatan konservasi dilakukan karena maraknya eksploitasi hutan dan alih fungsi lahan di sekitar mata air.

“Penebangan liar dan pembukaan kebun di sekitar mata air berdampak langsung pada menurunnya debit air bersih di Kecamatan Boawae,” ujarnya.

Ia berharap Peraturan Desa (Perdes) dan berita acara kesepakatan yang telah dibuat tidak berhenti pada tataran seremonial, tetapi diwujudkan dalam perubahan perilaku masyarakat.

“Jika masih ditemukan aktivitas perusakan hutan dan mata air, maka akan ditindak tegas,” tegasnya.

Senada dengan itu, Kapolsek Boawae mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang merusak lingkungan dan mengajak warga melaporkan setiap pelanggaran hukum.

“Jika ada yang melihat aktivitas perusakan alam, segera laporkan agar bisa ditindak sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.

Kegiatan penghijauan tersebut ditutup dengan makan siang bersama dalam suasana penuh kebersamaan dan sukacita, menandai komitmen kolektif menjaga kelestarian mata air di Kabupaten Nagekeo. (*/rnc)