Bahkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang sebelumnya dikenal bernada moderat, kini mengambil sikap lebih tegas. Meski mengakui adanya keluhan rakyat, ia menolak aksi protes yang dianggap mengancam stabilitas negara.

“Kami harus mendengar keluhan rakyat, tetapi tugas yang lebih besar adalah mencegah sekelompok perusuh menghancurkan seluruh masyarakat,” ujar Pezeshkian.

Dipicu Krisis Ekonomi, Tuntutan Kian Politis

Demonstrasi ini bermula pada 28 Desember 2025, dipicu runtuhnya nilai mata uang rial Iran yang kini diperdagangkan lebih dari 1,4 juta rial per dolar AS. Krisis ekonomi yang diperparah oleh sanksi internasional dan isu program nuklir Iran memicu kemarahan publik.

Iklan

Seiring waktu, tuntutan ekonomi berkembang menjadi seruan politik yang secara langsung menantang sistem teokrasi Iran. Ketegangan regional pun ikut meningkat.

Israel menyatakan terus memantau situasi, sementara Paus Leo XIV di Vatikan menyerukan dialog dan perdamaian, menyebut Iran sebagai wilayah yang terus dilanda konflik dan korban jiwa. (*/rnc)