Menurut Apremoi, komunikasi lintas instansi ini sangat krusial mengingat dampak pemadaman listrik telah mengganggu berbagai sektor vital.

“Pemadaman listrik berdampak pada aktivitas belajar anak-anak, pelayanan kesehatan, jaringan telekomunikasi, hingga melumpuhkan sektor UMKM dan dunia usaha di Rote Ndao,” jelasnya.

Hasil rapat menetapkan bahwa kapal pengangkut BBM akan segera diberangkatkan dan berlabuh di Pelabuhan Papela, Rote Timur, setelah parameter cuaca dinyatakan aman.

Skema Pemadaman Ekstrem dan Optimalisasi Distribusi

PLN ULP Rote Ndao menerapkan skema pemadaman ekstrem selama 20 jam per hari, terhitung mulai 23 Januari hingga 1 Februari 2026, dengan waktu menyala terbatas pada pukul 18.00–22.00 WITA.

Manager PLN ULP Rote Ndao, Yohanes Fernandes Lay, menjelaskan bahwa PLN menerima pinjaman 20 ribu liter BBM dari PT Nindya Karya, sementara kebutuhan operasional PLN mencapai sekitar 40 ribu liter per hari.

“Dengan BBM pinjaman ini, kami mencoba menerapkan skema nyala siang dan malam agar jam padam bisa dikurangi. Kami terus melakukan optimalisasi untuk memperpendek durasi pemadaman,” ungkapnya.

PLN juga menegaskan komitmennya untuk segera memulihkan distribusi listrik secara normal setelah proses bongkar muat BBM dari kapal pengangkut dapat dilakukan dengan aman.

Dorongan Pembangunan JOBBER oleh Pertamina

Kondisi krisis pasokan energi ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi Pertamina, melalui anak perusahaannya PT Patra Niaga, untuk segera merealisasikan pembangunan JOBBER di Kabupaten Rote Ndao. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai penting untuk menjamin ketahanan energi dan mencegah terulangnya krisis serupa di masa mendatang.