Kupang, RakyatNTT.ID – Universitas Nusa Cendana (Undana) mencatat sejarah baru dalam pengembangan pendidikan dan layanan kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Untuk pertama kalinya sejak berdiri 63 tahun lalu, Undana resmi membuka program studi dokter spesialis setelah memperoleh izin dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri Semuel Bale, ST., M.Eng, pada Selasa, 20 Januari 2026, menyatakan bahwa pembukaan program spesialis ini merupakan wujud nyata pelaksanaan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait percepatan pemerataan layanan kesehatan dan penguatan sumber daya manusia kesehatan sebagai pilar menuju Indonesia Emas 2045.

“Ini adalah manifestasi nyata dari instruksi Presiden untuk mempercepat pelayanan kesehatan yang merata, khususnya di daerah seperti NTT,” ujar Rektor Jefri Bale.

Didukung Kemenkes dan Kemendikti Saintek

Arahan Presiden tersebut ditindaklanjuti melalui kolaborasi Kementerian Kesehatan dan Kemendikti Saintek dengan membentuk task force peningkatan layanan kesehatan di perguruan tinggi negeri yang memiliki fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan.

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri Semuel Bale, ST., M.Eng. (Foto: Dok. RakyatNTT.ID)

Undana dinilai memenuhi dua syarat utama, yakni memiliki program studi kedokteran serta rumah sakit pendidikan sebagai wahana pembelajaran klinik. Seluruh kesiapan administrasi dan akademik telah dikoordinasikan oleh Wakil Rektor I bersama Dekan Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH) serta tim terkait.

“Awalnya kami mengusulkan tiga program studi spesialis, namun saat ini dua yang telah memperoleh SK. Ini sudah menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi Undana dan masyarakat NTT,” kata Rektor.

Dua Program Spesialis Resmi Dibuka

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 78/B/O/2026, Undana secara resmi memperoleh izin membuka dua program studi dokter spesialis, yakni:

Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif (Spesialis) dengan Universitas Udayana (Unud) sebagai perguruan tinggi pembina.

Program Studi Obstetri dan Ginekologi (Spesialis) dengan Universitas Airlangga (Unair) sebagai perguruan tinggi pembina.

Kedua program tersebut telah dinyatakan memenuhi persyaratan minimum akreditasi. Undana berkomitmen menjaga standar mutu pendidikan dengan melibatkan fakultas kedokteran dari universitas pembina guna menjamin kompetensi lulusan.

Siap Terima Mahasiswa

Undana menargetkan mulai menerima mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) pada semester genap tahun akademik 2026/2027.

Terkait daya tamping, disebutkan masih terbatas karena menyesuaikan rasio dosen dan infrastruktur, yakni rasio pengajar 1:5. Untuk tahap awal, kuota mahasiswa ditetapkan lima orang per program studi, sehingga total 10 mahasiswa PPDS.

“Kuota disesuaikan dengan kesiapan dosen dan fasilitas. Ini penting agar mutu pendidikan tetap terjaga,” jelas Rektor Undana.

Dorong Dukungan Pemerintah Daerah

Undana pun mendorong pemerintah daerah di 22 kabupaten/kota se-NTT untuk memanfaatkan program spesialis ini dengan mengirimkan dokter umum yang telah bertugas di rumah sakit daerah. Dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah dinilai krusial, mengingat skema LPDP belum mengakomodasi program ini secara penuh.

“Kami berharap putra-putri daerah mendapat prioritas, dan setelah lulus tetap mengabdi di NTT karena esensi program ini adalah memenuhi kebutuhan dokter spesialis di daerah,” tegas Rektor.

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri Semuel Bale, ST., M.Eng bersama Wakil Rektor I Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si dan Dekan FKKH Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi serta pejabat Undana lainnya saat konferensi pers di Aula Rektorat, Selasa, 20 Januari 2026. (Foto: Dok. RakyatNTT.ID)

Sejarah Baru Pendidikan Kedokteran NTT

Wakil Rektor I Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si, menambahkan bahwa pihak universitas tengah menyiapkan mekanisme seleksi dan administrasi sesuai tenggat waktu pelaporan ke kementerian.

Sementara itu, Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi, menyebut pembukaan dua program studi spesialis ini sebagai capaian bersejarah.

“Ini adalah program studi spesialis pertama, bukan hanya di Undana, tetapi juga di Provinsi NTT,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendirian program ini mendapat dukungan penuh dari organisasi profesi seperti POGI NTT, PERDATIN NTT, serta kolegium masing-masing bidang. Tujuan utamanya adalah mengatasi ketimpangan distribusi dokter spesialis, yang selama ini menyebabkan sejumlah rumah sakit di NTT belum dapat memberikan layanan medis optimal.

Dukungan juga datang dari rumah sakit pendidikan dan jejaring, termasuk RSUP Ben Mboi Kupang, Pemerintah Provinsi NTT, serta Kementerian Kesehatan.

Kehadiran program dokter spesialis Undana diharapkan menjadi tonggak penting penguatan layanan kesehatan di NTT, sekaligus memastikan masyarakat memperoleh pelayanan medis berkualitas tanpa harus keluar daerah. (rnc)