“Pelayanan penerbangan di kabupaten tetangga seperti Belu hanya tiga kali dalam seminggu. Jika TTU memiliki bandara sendiri dengan penerbangan setiap hari, maka Bandara Sasi bisa menjadi bandara alternatif bagi penumpang,” jelasnya.

Ia menargetkan proses pembersihan lahan rampung pada minggu kedua Januari 2025. Selanjutnya, pada minggu ketiga atau akhir Januari, dapat dilakukan uji coba pendaratan awal pesawat, tergantung kesiapan lahan.

“Mudah-mudahan setelah pembersihan selesai, kita bisa segera melaporkan ke pihak maskapai untuk uji coba landing pesawat,” tambahnya.

Iklan

Untuk tahap awal, Bandara Sasi direncanakan melayani pesawat dengan kapasitas 12 hingga 24 penumpang. Uji coba pertama akan menggunakan pesawat berkapasitas 12 penumpang, seperti Caravan, sedangkan pesawat CASA berkapasitas 24 penumpang disiapkan untuk tahap berikutnya.

Selain pembersihan lahan, Pemerintah Daerah TTU juga akan melakukan intervensi pembangunan, khususnya terkait akses menuju bandara dan pemenuhan aspek teknis lainnya, guna menjamin kelancaran dan keselamatan transportasi udara.

Dengan hadirnya Bandara Sasi, diharapkan konektivitas wilayah TTU semakin meningkat serta pelayanan transportasi udara bagi masyarakat dapat terwujud secara optimal. (*/rnc)