“Anak-anak kita hidup di tengah derasnya informasi. Gereja dan pemerintah harus bergandeng tangan menjaga kesehatan mental, moral, dan karakter generasi yang akan memimpin kota ini ke depan,” ujarnya.

Ia berharap persidangan melahirkan program yang tidak sekadar administratif, tetapi berdampak nyata bagi jemaat dan masyarakat. Sidang diharapkan mampu menguatkan gereja sebagai terang dan jawaban atas pergumulan sosial.

GMIT Tekankan Pentingnya Respons Gereja terhadap Perubahan Zaman

Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, M.Si, menegaskan bahwa gereja harus menjadi komunitas pembelajar yang peka terhadap isu-isu kontemporer seperti lingkungan, HIV/AIDS, perkembangan teknologi, dan tantangan etika digital.

Iklan

Usung Tema Keadilan dan Kesetiaan

Ketua Panitia, Maxi Buifena, melaporkan bahwa sidang berlangsung selama tiga hari dengan tema: “Lakukan Keadilan, Cintai Kesetiaan, dan Hiduplah Rendah Hati di Hadapan Allah.”

Ia mengajak seluruh jemaat menopang jalannya sidang agar menghasilkan keputusan yang membawa pembaruan bagi pelayanan gereja.

Sidang Klasis Kota Kupang Timur ke-8 diharapkan menjadi ruang refleksi, evaluasi, dan peneguhan untuk mewujudkan Kota Kupang yang semakin rukun, kuat, dan penuh harapan. (*/rnc)