Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
UMAT Kristiani di seluruh dunia akan merayakan Hari Natal dalam beberapa hari mendatang. Perayaan ini identik dengan pohon Natal, dekorasi meriah, serta sukacita bersama keluarga. Namun kemeriahan tersebut tak dapat dirasakan oleh umat Kristiani di Korea Utara, negara yang melarang warganya memeluk agama apapun. Warga yang ketahuan merayakan Natal bahkan disebut dapat menghadapi hukuman mati.
Merayakan Natal dinyatakan ilegal karena Korea Utara menganut ideologi Juche, yang salah satu penerapannya adalah kultus terhadap pemimpin negara, Kim Jong Un, yang diperlakukan layaknya figur ketuhanan. Ideologi ini membuat seluruh penduduk Korea Utara secara praktis hidup sebagai atheis, meski sebagian kecil warga tetap menjalankan ritual keagamaan secara diam-diam dengan risiko hukuman berat.
Seorang pembelot Korea Utara, Kang Jimin, yang dikutip The Independent mengaku ia sama sekali tidak mengetahui apa itu Natal selama tinggal di Pyongyang.
“Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus tetapi Korea Utara jelas merupakan negara komunis sehingga orang-orang tidak mengetahui siapa Yesus Kristus. Mereka tidak tahu siapa Tuhan. Keluarga Kim adalah Tuhan mereka,” ujarnya.
Menariknya, pohon berhias lampu dan ornamen dapat ditemukan sepanjang tahun di Pyongyang. Namun, warga tidak mengetahui bahwa dekorasi tersebut identik dengan Natal karena hubungan simboliknya sengaja dihapus oleh rezim.
Korea Utara Pernah Menjadi Negara Kristen
Sejarah mencatat bahwa sebelum Perang Korea, wilayah Korea Utara justru memiliki populasi Kristen yang besar. Banyak pastor dan tokoh gereja berasal dari wilayah tersebut.
“Sekitar 60 tahun lalu, Korea Utara adalah negara yang sangat Kristen. Bahkan orang-orang menyebutnya ‘Jerusalem di Timur’,” kata Jimin.
Menurutnya, hingga kini masih ada warga Korea Utara yang diam-diam menjalankan ajaran Kristiani, meski risiko yang ditanggung sangat besar.
Jimin juga menceritakan salah satu kasus tragis:
“Saya mendengar ada keluarga yang percaya kepada Tuhan dan polisi menangkap mereka. Mereka semua kini meninggal — bahkan anak-anak berusia 10 dan 7 tahun.”
Seorang teman Jimin yang bekerja di polisi rahasia disebut turut menyaksikan bahwa keluarga-keluarga Kristen sering ditangkap karena dianggap menyebarkan agama.
Gereja di Korea Utara hanya untuk Turis
Meski melarang warganya beragama, Korea Utara memiliki beberapa gereja yang dikendalikan penuh oleh negara. Pusat Database Hak Asasi Manusia Korea Utara (NKDB) memperkirakan ada 121 fasilitas keagamaan, termasuk:
- 64 kuil Buddha
- 52 kuil Cheondoist
- 5 gereja Kristen
Menurut Jimin, gereja tersebut tidak berfungsi sebagai tempat ibadah sesungguhnya dan tidak dapat diakses oleh warga lokal.
“Jika ada turis bertanya apakah di sini ada gereja, mereka akan menjawab: ‘Tentu saja ada, kami adalah negara bebas’, lalu membawa tur ke sana,” jelasnya.
Dengan pembatasan agama yang sangat ketat, umat Kristiani di Korea Utara menghadapi risiko besar jika merayakan Natal, berbeda jauh dari suasana sukacita yang dirasakan umat Kristiani di negara lain. (*/rnc)
