Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Sepanjang 2025, dolar AS melemah sekitar 9%, sementara inflasi tetap di atas target The Fed. Bank sentral dunia membeli sekitar 850 ton emas, mengunci pasokan fisik dari pasar.
Selain itu, ETF emas mencatat arus masuk sekitar US$82 miliar atau 749 ton, tertinggi sejak 2020. Kondisi ini menandakan penataan ulang cadangan nilai global, bukan sekadar reli spekulatif jangka pendek.
Tembaga jadi Komoditas Strategis
Harga tembaga konsisten bertahan di atas US$5 per pon, didorong gangguan arus fisik global. Selisih harga antara COMEX AS dan LME menciptakan arbitrase besar, mendorong aliran tembaga fisik ke Amerika Serikat. Akibatnya, stok di LME terus menurun, disertai meningkatnya canceled warrants, tanda pasokan semakin ketat.
Gangguan pasokan diperparah oleh pemangkasan panduan produksi sejumlah perusahaan tambang besar. Citi memproyeksikan harga tembaga berpotensi menembus US$13.000 per ton pada awal 2026, bahkan US$15.000 per ton jika defisit melebar.
Dengan peran vital dalam jaringan listrik, kendaraan listrik, dan pusat data, tembaga kini dipandang sebagai input strategis, bukan sekadar komoditas siklikal.
Litium Reli Berkat Kebijakan China
Litium menjadi satu-satunya logam yang reli terutama karena kebijakan pemerintah. Harga litium karbonat di China menembus CNY 110.000 per ton setelah otoritas di Yichun mencabut 27 izin tambang dan menutup operasi besar milik CATL.
