“Kabupaten TTS menjadi lokasi NTT Mart keempat dari rencana 22 NTT Mart di seluruh NTT. Ini langkah penting bagi kemandirian ekonomi ketika kita bersama membuka NTT Mart sebagai simbol gerakan besar mencintai dan mengutamakan produk lokal,” ujar Melki.

Ketimpangan Arus Barang: Rp59 Triliun Masuk, Rp8 Triliun Keluar

Gubernur Melki memaparkan data Bank Indonesia yang menunjukkan tingginya arus barang masuk ke NTT. Nilai barang masuk mencapai Rp59 triliun, sedangkan barang yang keluar hanya Rp8 triliun.

Kondisi ini menunjukkan perlunya perubahan pola konsumsi dan penguatan produksi lokal agar perputaran ekonomi tidak terus mengalir keluar daerah.

Melki mencontohkan komoditas pinang, yang menyebabkan aliran dana sekitar Rp1 triliun per tahun ke luar NTT karena sebagian besar masyarakat membeli pinang dari daerah lain.

“Kita bisa tanam sendiri, olah sendiri, dan jual sendiri. Ini kerugian besar yang bisa kita ubah,” tegasnya.

Tantangan UMKM: Kontinuitas Produksi Masih Lemah

Melki menyoroti tantangan utama UMKM NTT, yaitu kontinuitas produksi. Banyak pelaku usaha mampu membuat produk berkualitas, tetapi kesulitan memenuhi suplai bulanan, sehingga pasar sulit berkembang.

Menurutnya, NTT Mart adalah jawaban dari minimnya akses pasar. Mart ini dirancang sebagai pusat pemasaran produk dari desa hingga kelurahan, sekaligus memperkuat program One Village One Product (OVOP).