Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
ETMC XXXIV 2025 tiba pada babak puncak. Stadion Marilonga bersiap menjadi panggung pertempuran dua saudara sekampung dalam sejarah sepak bola NTT — PSN Ngada melawan Persena Nagekeo.
Laga ini bukan sekadar final; ia adalah drama identitas, cerita hubungan darah yang terpisah wilayah namun tetap bersinggungan jantung. Ngada dan Nagekeo dahulu satu rumah, satu tarian sorak, satu lumbung bakat.
Sejak pemekaran tahun 2006, Persena tumbuh sebagai adik yang mencari bentuk, sementara sang kakak PSN Ngada mengukir reputasi sebagai raja sepak bola NTT — kolektor gelar terbanyak ETMC.
Kini, keduanya berjumpa dalam laga hidup-mati. Persena yang bukan unggulan, datang dari lorong sunyi, melewati barisan raksasa — termasuk Perse Ende — dan tiba di gerbang final untuk pertama kalinya. Bukan dengan sorotan media, tetapi dengan semangat marah yang ingin membuktikan bahwa adik pun bisa menggetarkan bumi.
Di seberang lapangan, PSN Ngada menenteng beban sejarah. Gelar juara terbanyak justru menjadi tekanan. Pertandingan melawan adik sendiri bukan sekadar duel taktik — ia pertempuran emosional.
Laskar Jara Masi harus mempertahankan martabat di hadapan Laskar Seka Talo yang datang tanpa rasa takut.
Namun, di balik tensi final ini, ada pesan besar yang jauh melampaui gol dan selebrasi. Sepak bola NTT sedang bangkit.
