Perubahan ini terbilang sangat cepat. Tiga tahun lalu, Jepang masih unggul sekitar delapan juta unit atas China. Kini, keunggulan tersebut lenyap, tergerus ekspansi agresif produsen China dan tekanan berat di pasar domestik Jepang.

Elektrifikasi jadi Mesin Pendorong

Kebangkitan China tak lepas dari strategi elektrifikasi masif. Saat ini, kendaraan listrik (EV) dan plug-in hybrid (PHEV) menyumbang sekitar 70 persen dari total penjualan produsen mobil China.

Didukung kebijakan pemerintah, hampir enam dari sepuluh mobil penumpang yang terjual di China merupakan kendaraan energi baru (NEV). Namun, dominasi ini juga memicu kelebihan pasokan (oversupply), memaksa produsen seperti BYD memangkas harga secara agresif.

Persaingan paling sengit terjadi di segmen harga 100.000–150.000 yuan (sekitar Rp220–330 juta), yang menyumbang hampir seperempat penjualan NEV. Perang harga di segmen ini membuat margin keuntungan semakin tertekan.

Ekspor jadi Katup Penyelamat

Untuk meredam kejenuhan pasar domestik, ekspor menjadi strategi utama. Produsen China semakin agresif mengirim kendaraan ke luar negeri, meski tren ini menuai kritik sebagai bentuk “ekspor deflasi” karena menekan harga di pasar tujuan.