FENOMENA alam yang mengerikan berupa banjir, tanah longsor dan tragedi ekologis lainnya, yang viral di jagat maya bukan lagi sekedar berita, melainkan suatu seruan atau panggilan yang menuntun kita untuk bergerak. Gerakan ini bukan soal penyesalan, melainkan kesadaran mendalam untuk memulihkan alam yang telah kita buat keropos.

Mengapa kesadaran memulihkan alam itu sungguh penting? Lihat saja tragedi global yang baru-baru ini terjadi: terbakarnya hutan Amazon pada 2024 yang meluluh-lantakkan paru-paru dunia, membuat warga Brasil dan Eropa menangis karena hilangnya bioma sebagai penyeimbang iklim. Sementara itu, di tanah air kita, jutaan hektar hutan dibabat demi ambisi pertanian monokultur seperti Kebun Sawit dan aktivitas pertambangan yang tak terkendali.

Akibat dari pembabatan hutan itu memberi efek yang memilukan bagi manusia. Banjir dan tanah longsor menjadi bukti sebagai ulah sekelompok manusia ego. Kota Medan misalnya, bak danau Toba. Jalan-jalan digenangi air, transportasi terhambat dan aktivitas manusia lumpuh. Di beberapa tempat lain, bongkahan kayu yang dibawa banjir tak terhitung jumlahnya memenuhi pinggiran sungai dan tentu, mengotori perumahan warga. Apa yang salah sehingga alam menjadi tak bersahabat dengan manusia?

Iklan