“Kalau kebijakan ini konsisten, lifting minyak bisa mencapai satu juta barel per hari. Potensi ladang minyak baru di Indonesia masih sangat besar,” ujarnya optimistis.

Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara eksplorasi energi fosil dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk menjaga kemandirian energi jangka panjang.

Kenaikan Lifting jadi Indikator Pertumbuhan Ekonomi Positif

Pakar ekonomi dari Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Dr. Frits Fanggidae, menilai kenaikan lifting minyak juga memberi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Lifting mencerminkan kekuatan permintaan dan penawaran. Produksi yang meningkat menunjukkan kapasitas industri energi kita mulai pulih,” ujar Frits.

Namun, ia menekankan bahwa peningkatan lifting harus dibarengi penguatan kapasitas produksi nasional agar hasilnya bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

“Kalau lifting naik tapi industri energi kita stagnan, impor tetap besar. Jadi harus paralel dengan pengembangan EBT,” jelasnya.

Kebijakan Energi Prabowo–Gibran Dinilai Sudah di Jalur yang Tepat

Sementara itu, pakar kebijakan publik Prof. Dr. David B. W. Pandie menilai strategi energi pemerintahan Prabowo–Gibran sudah berada di arah yang benar.