Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Berlin, RakyatNTT.ID — Gelombang baru teknologi militer berbasis kecerdasan buatan (AI) tengah mengubah wajah medan tempur modern, dan startup asal Eropa bernama Helsing muncul sebagai salah satu pemain utama dalam revolusi ini.
Perusahaan ini memadukan AI, robotika, dan computer vision untuk menciptakan alat utama sistem persenjataan (alutsista) generasi baru — mulai dari jet tempur tanpa awak hingga drone otonom — yang bisa diproduksi lebih cepat dan lebih murah dibanding sistem pertahanan tradisional.
Revolusi Industri Pertahanan Modern
Pendanaan sektor pertahanan kini tidak hanya bergantung pada kontrak pemerintah. Investor swasta dan modal ventura ikut mendorong percepatan inovasi, termasuk Helsing, yang didirikan pada 2021 oleh Gundbert Scherf, mantan penasihat Kementerian Pertahanan Jerman.
Scherf menyebut, “Ini revolusi besar dalam industri pertahanan. Perusahaan tidak lagi menunggu proyek negara, tapi langsung mengembangkan produk dengan modal sendiri,” ujarnya seperti dikutip dari Techspot via New York Times.
Startup ini kini bernilai USD 14 miliar, menjadikannya salah satu startup teknologi militer paling berharga di Eropa. Dukungan besar datang dari Daniel Ek, pendiri dan mantan CEO Spotify, yang dikabarkan menyuntikkan dana hampir USD 700 juta ke Helsing.
AI Kendalikan Jet Tempur dan Drone di Ukraina
Helsing memasok drone dan sistem AI adaptif untuk militer Ukraina, yang diperbarui setiap beberapa minggu mengikuti kondisi di lapangan perang.
Salah satu inovasi terbesarnya adalah platform AI bernama Centaur, yang pada Mei lalu berhasil mengambil alih kendali jet tempur Saab Gripen E dalam uji coba di atas Laut Baltik.
Dalam simulasi, AI Centaur dapat membuat hingga sepuluh keputusan per detik, menghemat bahan bakar, serta mengalahkan pilot manusia dalam duel udara digital.
Dalam satu latihan, sistem AI tersebut bahkan menjatuhkan dua jet yang diterbangkan pilot manusia hanya dalam hitungan menit.
Langkah Strategis ke Jet dan Kapal tanpa Awak
Setelah mengakuisisi produsen pesawat Grob Aircraft, Helsing kini mengembangkan jet tempur tanpa awak CA-1 Europa sepanjang 11 meter, yang ditargetkan siap beroperasi dalam empat tahun.
Selain itu, perusahaan juga menyiapkan drone serang dan kapal selam mini berbasis AI sebagai bagian dari ekosistem alutsista otonom.
Perang Ukraina jadi Laboratorium Inovasi Militer
Konflik di Ukraina telah mempercepat eksperimen drone dan sistem pertahanan AI. Sekitar 80 persen target di medan perang kini dihancurkan oleh drone, sebagian besar dibuat dari bahan sederhana seperti kayu lapis dan busa — tetapi mampu membawa muatan mematikan.
Fenomena ini mendorong banyak startup pertahanan di Eropa dan Amerika mengembangkan kapal tak berawak, rudal pintar, dan drone interceptor dengan siklus pengembangan jauh lebih cepat dari sistem pengadaan tradisional yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Masa Depan Pertahanan: Dari Mesin ke Algoritma
Meski peluang terbuka lebar, memasuki pasar pertahanan bukan hal mudah. Proses birokrasi dan uji keamanan masih menjadi hambatan besar bagi startup baru.
Namun, satu hal kini pasti — masa depan industri militer tidak lagi hanya soal mesin dan amunisi, melainkan juga soal algoritma, data, dan kecepatan inovasi. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

