Pesan penting bagi pemuda masa kini adalah menjaga keseimbangan antara keterbukaan terhadap kemajuan zaman dan kepekaan terhadap nilai-nilai local. Di tengah dunia digital yang penuh informasi, pemuda harus mampu memilah informasi yang relevan dan positif untuk diadopsi, sambil tetap menghargai dan mempertahankan budaya serta tradisi local yang merupakan jati diri bangsa.
Sentiment SARA dan narasi intoleran, termasuk hate speech (ujaran kebencian) di media social, semakin mewarnai kehidupan berbangsa.

Saat ini, kita berada dalam fase perubahan yang sangat cepat berkat kemajuan teknologi. Teknologi telah membuka akses ke hal-hal yang tak terbayangkan di era 20-an, memungkinkan informasi menyebar dengan cepat dan mudah. Dengan satu sentuhan, informasi bisa mencapai seluruh dunia; kitab bisa menghimpun dukungan lewat media social; dan pertemuan daring bisa diadakan tanpa kehadiran fisik.

Kita belajar dari gerakan pemuda di Negara Nepal beberapa waktu lalu demonstrasi yang diinisiasi oleh pemuda pelajar/mahasiswa mengubah situasi politik social dengan membangun jejaring media sosila oleh generasi muda sehingga melahirkan Sejarah bangsa. Bagaimana dengan pemuda Indonesia hari ini?
Perubahan yang begitu drastis ini bisa menjadi peluang dan tantangan bagi pemuda Indonesia dalam mewujudkan cita-cita Generasi Emas 2045. Tantangan yang dihadapi bukan lagi penjajahan, melainkan arus informasi yang massif dan bebas. Jika tidak disaring dengan baik, hal ini bisa berdampak negative pada kehidupan kita dan kehidupan bernegara.