Perbedaan yang menuntut pemahaman yang hakiki mengenai toleransi harus menjadi dasar dan model dalam membangun hidup bersama. Model ini harus dapat diajarkan dan dihidupi setiap hari. Perbedaan harus dimengerti sebagai sebuah hal kecil yang tidak bisa menegasikan sebuah kebersamaan sebagai satu bangsa yang dibangun dalm sejarah yang sama.

Kedua, perasaan memiliki identitas berasal dari tekad atau kecenderungan setipa warga untuk bertanggungjawab ats keberlangsungan ciri khas mereka, baik acuan pada “budaya yang sama”, dalam arti suatu system gagasan, tanda, cara bertindak, dan berkomunikasi, dan juga solidaritas serta kohesi sebagai keloompok. Selain budaya dan tempat yang sama, pengalaman akan sejarah yang sama juga ikut mengkristalkan kebangsaan itu (Haryatmoko: 2010:121). Kedua nilai diatas tercermin dari sumpah yang didengungkan bersama oleh pemuda dari berbagai golongan dan etnis untuk merelakan perbedaan identitas dalam sebuah kehidupan bersama yang bernama Indonesia.

Selain itu, bangsa memiliki identitas naratif ditandai oleh kemampuannya menepati janji-janji, khususnya janji terhadap anggota-anggotanya.

Kemamapuan menepati janji merupakan identitas yang lebih tinggi (p Ricouer, 1990). Kemampuan menepati janji yang dimaksud adalah upaya untuk membangun sebuah kohesi sekaligus kesatuan dan persaudaraan dalam perbedaan.