Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
MASIHKAH Anda ingat tulisan saya dengan topik “Wali Kota dan Jebakan Rutinitas” di media ini, pada tanggal 2 Juni, 2025? Pada tulisan itu saya menyampaikan bahwa dengan adanya Program “Kupang Bersinar” (Kupang Bersih, Indah, dan Asri) dari Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, Kota Kupang menjadi lebih bersih dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Walaupun demikian, dalam tulisan itu, saya mengingatkan bahwa jika tidak ada terobosan baru yang dilakukan oleh wali kota, kebersihan Kota Kupang itu hanya bersifat sementara. Artinya, Kota Kupang itu akan kembali menjadi kotor (sekali), jika wali kota masih terjebak dengan kegiatan rutin yang dilakukan oleh para pejabat sebelumnya.
Mengerahkan siswa, mahasiswa, ASN, dan para “cleaning service” amatir dadakan lainnya, misalnya, yang siap membersihkan kota, ketika mereka punya waktu. Ketika punya waktu itu, mereka giat memungut sampah. Tempat yang bebas sampah itu kemudian difoto dan fotonya disebar ke berbagai media. Melihat foto itu, orangpun kagum dan berpikir: Kupang betul-betul “bersinar“.
Itu kalau mereka punya waktu. Jika tidak, mereka pun kembali ke tugas rutinnya, apapun itu. Akibatnya kotapun kembali menjadi kotor. Absennya “cleaning service” profesional yang secara rutin, total, all out, sekali 24 jam per hari, tujuh hari per minggu, yang membersihkan kota itu dari sampah, antara lain, membuat sampah seolah-olah betah saja menetap di kota yang dihuni oleh para penduduknya yang, secara umum, cerdas. Sangat cerdas malah.
Saat ini, kurang lebih tiga bulan, setelah tulisan itu dimuat di media yang sangat bergengsi ini, ketakutan saya menjadi kenyataan. Anda tidak percaya? Jalan saja di Jalur 40 dari Lasiana di bagian timur hingga Pelabuhan Tenau di bagian barat Kota Kupang. Sepanjang jalan itu Anda akan temukan banyak sampah.
Sebelum masuk Bundaran Burung dekat Universitas Nusa Cendana (Undana) dari arah timur, misalnya, sampah berserakkan. Padahal wilayah itu masih di tengah kota. Di samping selatan Undana, salah satu universitas unggul di negeri ini. Juga dekat tanah milik Angkatan Udara RI.
Salain itu, jalan saja ke arah Kupang dari Bandara El Tari, via Jalan Adisucipto, hingga Oesapa. Di sana, sampah, secara literal, ada di mana-mana. Terutama dekat kampus Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Unkris Artha wacana, Kupang.
Belum lagi di Jalan Oe Aen Tuan yang melintang dari timur ke barat Kelurahan Liliba. Setiap hari saya lewat di jalan itu. Di kali mati dekat Tempat Pemakaman Umum Liliba, sampah, setali tiga uang, memenuhi sisi kiri kanan jalan.
Anda, pembaca, saya kira, bisa memberikan contoh lain. Di sekitar tempat tinggal Anda, misalnya. Atau di tempat yang Anda lalui saban hari. Tidak susah untuk berpapasan dengan sampah yang menebar secara sangat masif di kota yang terlanjur dikenal dengan sebutan Kota Kasih itu: Kota Kasih, Aman, Sehat, Indah, Harmonis.
Kasih, mungkin, iya. Juga aman, iya. Harmonis apalagi. Namun, di mana indahnya, jika sampah menumpuk? Bagaimana warga sehat, jika sampah tak terhindarkan di sekitarnya? Atau apakah itu tanda bahwa Kota Kupang yang kita kasihi ini, sekali kotor tetap kotor?
Kiranya, Wali Kota Kupang dan petugas terkait bisa menjawab pertanyaan tersebut secara segera. Ataukah kita harus tunggu Pemilu berikut, pemimpin berikut, petugas berikut untuk menjawab itu? Semoga tidak. Sebab pertanyaan tersebut, sejatinya, bisa dijawab sekarang. Saat ini. Di sini. Di Kota Kasih ini. Oleh para pejabat yang telah pula dipilih secara demokratis.
Itu pendapat saya. Pendapat Anda? (*)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

