Saat ini, kurang lebih tiga bulan, setelah tulisan itu dimuat di media yang sangat bergengsi ini, ketakutan saya menjadi kenyataan. Anda tidak percaya? Jalan saja di Jalur 40 dari Lasiana di bagian timur hingga Pelabuhan Tenau di bagian barat Kota Kupang. Sepanjang jalan itu Anda akan temukan banyak sampah.

Sebelum masuk Bundaran Burung dekat Universitas Nusa Cendana (Undana) dari arah timur, misalnya, sampah berserakkan. Padahal wilayah itu masih di tengah kota. Di samping selatan Undana, salah satu universitas unggul di negeri ini. Juga dekat tanah milik Angkatan Udara RI.

Salain itu, jalan saja ke arah Kupang dari Bandara El Tari, via Jalan Adisucipto, hingga Oesapa. Di sana, sampah, secara literal, ada di mana-mana. Terutama dekat kampus Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Unkris Artha wacana, Kupang.

Iklan

Belum lagi di Jalan Oe Aen Tuan yang melintang dari timur ke barat Kelurahan Liliba. Setiap hari saya lewat di jalan itu. Di kali mati dekat Tempat Pemakaman Umum Liliba, sampah, setali tiga uang, memenuhi sisi kiri kanan jalan.

Anda, pembaca, saya kira, bisa memberikan contoh lain. Di sekitar tempat tinggal Anda, misalnya. Atau di tempat yang Anda lalui saban hari. Tidak susah untuk berpapasan dengan sampah yang menebar secara sangat masif di kota yang terlanjur dikenal dengan sebutan Kota Kasih itu: Kota Kasih, Aman, Sehat, Indah, Harmonis.