Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Hipertensi dan diabetes itu ibunya penyakit. Dampaknya bisa ke jantung, gagal ginjal, hingga stroke,” kata dr. Ari saat ditemui usai acara.
Ia menambahkan, jumlah pasien yang menjalani perawatan untuk penyakit jantung dan cuci darah juga meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir.
Tren yang mengkhawatirkan, lanjutnya, adalah pergeseran usia pasien hipertensi yang kini banyak terjadi pada usia produktif 30–40 tahun, bukan lagi di atas 50 tahun.
“Kenaikan kasus di usia muda tidak selalu berarti makin banyak yang sakit, tapi banyak yang baru bisa mengakses pengobatan karena sudah terdaftar di BPJS Kesehatan,” pungkasnya.
Pemerintah Dorong Deteksi Dini dan Edukasi Publik
Kemenkes menegaskan akan terus memperluas edukasi kesehatan publik agar masyarakat lebih aktif memeriksakan diri secara rutin dan tidak terpengaruh hoaks.
Selain itu, integrasi data kesehatan nasional melalui platform SATUSEHAT dan CKG akan digunakan untuk memantau pengendalian hipertensi secara nasional.
dr. Nadia menekankan bahwa hipertensi bukan penyakit yang bisa diabaikan, karena menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit kronis lainnya.
“Kuncinya adalah deteksi dini dan pengobatan rutin. Kalau tekanan darah terkontrol, risiko komplikasi bisa ditekan,” ujarnya. (*/rnc)





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

