Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID — Isu kandungan etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) Pertamina tengah ramai diperbincangkan. Dua SPBU swasta, Vivo dan BP, dikabarkan membatalkan pembelian base fuel dari Pertamina karena adanya campuran etanol 3,5 persen dalam produk impor tersebut.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, mengungkapkan bahwa kandungan etanol itu sebenarnya masih dalam batas aman dan diizinkan oleh regulasi nasional.
“Isu yang disampaikan rekan-rekan SPBU ini mengenai konten etanol. Regulasi memperbolehkan etanol hingga 20 persen, sementara kandungan di base fuel ini hanya 3,5 persen,” jelas Achmad, Kamis (2/10/2025).
Ia menambahkan, perbedaan kebijakan teknis antara operator swasta dan BUMN menjadi alasan utama batalnya transaksi tersebut.
Etanol dalam BBM, Praktik Umum di Banyak Negara
Penggunaan bahan bakar campuran etanol bukan hal baru. Di banyak negara, bioetanol menjadi bagian penting dari strategi energi bersih.
Menurut Roberth MV Dumatubun, Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, praktik pencampuran etanol dalam BBM justru sudah menjadi standar internasional.
“Penggunaan BBM dengan campuran etanol hingga 10% sudah menjadi best practice di Amerika Serikat, Brasil, dan bahkan Thailand,” ujar Roberth.
“Ini bagian dari upaya global untuk mendorong energi ramah lingkungan dan mengurangi emisi karbon.”
Kandungan etanol pada bahan bakar berfungsi sebagai oksigenator alami, membantu proses pembakaran menjadi lebih bersih dan efisien.
Teknologi Kendaraan Siap Gunakan Bahan Bakar Etanol
Sejalan dengan tren energi hijau, pabrikan otomotif dunia kini mulai beradaptasi dengan teknologi bahan bakar fleksibel (Flexible Fuel Vehicle/FFV) yang bisa menggunakan etanol.
Produsen asal Jepang, Suzuki, akan memamerkan kendaraan berbahan bakar etanol di ajang Japan Mobility Show (JMS) 2025.
Model SUV Suzuki Fronx FFV dan motor Gixxer SF 250 FFV dirancang agar mampu menggunakan bahan bakar dengan campuran etanol hingga 85% (E85).
“Kami mengembangkan kendaraan FFV yang dapat mengonsumsi bioetanol 85% melalui modifikasi injektor, pompa bahan bakar, dan sistem kontrol mesin,” ungkap perwakilan Suzuki.
Suzuki juga menyebut bahwa bahan bakar bioetanol nabati dapat mengurangi emisi CO₂ secara signifikan dibanding bahan bakar fosil, sekaligus mendukung komitmen netralitas karbon global.
Langkah Pertamina Menuju Energi Rendah Emisi
Pertamina sendiri tengah memperluas program transisi energi melalui integrasi bahan bakar ramah lingkungan, termasuk campuran etanol dan biodiesel.
Kebijakan ini menjadi bagian dari roadmap pemerintah untuk mencapai net-zero emission pada 2060.
Dengan meningkatnya kesadaran terhadap energi hijau dan efisiensi lingkungan, kehadiran BBM ber-etanol dinilai sebagai langkah progresif meski masih menimbulkan pro dan kontra di industri SPBU swasta. (*/rnc)
