Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Pemerintah menyalurkan dana sebesar Rp 200 triliun kepada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam upaya memperkuat likuiditas perbankan nasional dan mendorong pertumbuhan kredit menjelang akhir tahun 2025.
Kebijakan ini diharapkan dapat menstabilkan sektor keuangan serta menurunkan biaya dana (cost of fund) di industri perbankan.
Dampak Positif Dana Rp 200 Triliun ke Himbara
Menurut Head of Transaction Banking Standard Chartered Indonesia, Jenny Tantono, suntikan dana besar dari pemerintah tersebut akan memberikan efek positif terhadap kondisi perbankan, meski dampaknya tidak langsung terlihat dalam waktu singkat.
“Rp 200 triliun itu memang baru masuk ke bank-bank Himbara, tapi efeknya tidak langsung. Dalam beberapa bulan ke depan, seharusnya kondisi likuiditas di Indonesia akan menjadi lebih longgar,” jelas Jenny, dikutip Sabtu (18/10/2025).
Jenny menambahkan bahwa dana segar ini juga dapat menekan biaya dana perbankan, khususnya dalam denominasi rupiah.
“Rp 200 triliun ini sepenuhnya dalam rupiah. Jadi tujuannya untuk menurunkan cost of fund dan suku bunga rupiah. Dampaknya ada, tapi tidak terjadi dalam semalam,” ujarnya.
Distribusi Dana untuk Bank Himbara
Total dana Rp 200 triliun tersebut disalurkan kepada lima bank anggota Himbara dengan pembagian sebagai berikut:
- Bank Mandiri: Rp 55 triliun
- Bank BRI: Rp 55 triliun
- Bank BNI: Rp 55 triliun
- Bank BTN: Rp 25 triliun
- Bank Syariah Indonesia (BSI): Rp 10 triliun
Penempatan dana ini diharapkan mampu memperkuat posisi likuiditas bank-bank pelat merah serta menstimulasi ekspansi kredit ke sektor produktif, khususnya UMKM dan infrastruktur nasional.
Likuiditas Longgar, Kredit Diharapkan Tumbuh
Jenny optimistis bahwa injeksi dana Rp 200 triliun ke Himbara akan memberikan efek ganda bagi stabilitas ekonomi dan penyaluran kredit nasional.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

